Kamis, 29 Juli 2010

Tasawuf bukanlah Bid'ah yang menyesatkan




A’udzubillahi minassyaithanirrajiim

Bissmillahirrahmanirrahiim

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad


Untuk memahami hal ini , kita harus menyamakan persepsi tentang hal yang disebut bid'ah. Apabila kita melihat kepada kamus ensiklopadia Islam , maka yang disebut dengan bid'ah adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh kaum muslimin , dimana hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saww. Apabila pengertian bid'ah itu mengacu kepada apa yang tersebut diatas , maka sebagian besar pola kehidupan kaum muslimin saat ini adalah bid'ah. Misalnya saja pencetakan dan penyebaran Al Qur'an dalam bentuk buku , dokumentasi hadist dan kitab-kitab,shalat dengan memakai pengeras suara, cara berpakaian , cara menggunakan kendaraan ( mobil , motor, dll ), cara makan dan jenis makanan, ha itu semua tidak dilakukan oleh Rasulullah Saww, bahkan arsitektur masjid atau rumah yang kita bangun , itupun termasuk dalam pengertian bid'ah. Akan tetapi tentu saja akal kita akan menyangkal hal tersebut, karena pola kehidupan masa kini dipengaruhi oleh teknologi, dimana arus teknologi itu tidak dapat dihindari oleh kaum muslimin saat ini, justru kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin dalam rangka Syiar Islam dan pembentukan ukhuwah Islamiyyah. maka berdasarkan fakta-fakta tersebut , tentu saja pengertian bid'ah bukanlah mencakup hal-hal seperti itu.

Yang kedua adalah pengertian bid'ah menurut ilmu fiqih atau syariat Islam. Menurut terminologi ilmu syariat dijelaskan bahwa yang disebut bid'ah adalah, mengada-adakan , menghilangkan , merubah , menambah atau mengurangi suatu ketentuan hukum syariat, dimana hal tersebut tidak sebagaimana ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah Saww. Pengertian ini meliputi mengadakan fatwa/ketetapan hukum yang baru atas suatu ajaran atau prosesi ibadah yang bersifat syar'i , merubah hukum suatu ibadah, misalnya yang hukumnya sunnah difatwakan sebagai kewajiban ataupun sebaliknya. Ataupun juga menghilangkan serta merubah ketentuan hukum-hukum yang lainnya seperti mubah, makruh, dsb. Maka apabila konsep bid'ah ini merujuk secara total pada pengertiannya menurut batasan fiqih tanpa adanya suatu toleransi , tentu saja banyak sekali kegiatan yang saat ini dilakukan oleh kaum muslimin mulai dari ulama sampai dengan umara yang tergolong bid'ah. Misalnya saja berkenaan dengan fatwa para ulama tentang KB, fatwa tentang bayi tabung , dll. Pada kalangan kaum muslim secara umum pun akan terdapat berbagai macam bid'ah seperti penulisan dan pembukuan al Qur'an . al Hadist, dan kitab-kitab, perempuan yang menjadi wanita karir, dan masih banyak lagi perbuatan yang digolongkan kedalam bid'ah.

Namun dari banyaknya hal hal yang tergolong bid'ah tersebut, terdapat hal hal yang sulit dihindari oleh kaum muslimin , disamping itu terdapat pula hal hal yang bermanfaat untuk kepentingan Islam apabila dilakukan. Oleh karena itu para ulama Fiqih yang mulia ( semoga Allah Ta'ala memelihara mereka , karena mereka telah memelihara syariat Islam ) mengambil dan memutuskan suatu ijtihad, ijma , atau qiyas, yang berfungsi untuk memudahkan atau pola atau sistem kehidupan yang dijalani oleh kaum muslimin saat ini dengan menyelaraskan terhadap perkembangan teknologi yang berlaku. Mereka pada akhirnya merumuskan suatu konsep yang secara garis besar menggolongkan sesuatu yang disebut bid'ah itu kedalam dua bagian sebagai mana tersebut dibawah ini.

Bid'ah Hasanah

adalah suatu perbuatan yang termasuk kedalam kategori bid'ah , namun apabila dilakukan justru mendatangkan kemaslahatan, diantara contohnya adalah mencetak al Qur'an dan Hadist, sholat dengan pengeras suara , khutbah jum'at dengan bahasa setempat , dll. bid'ah hasanah adalah segala sesuatu hal atau perbuatan secara syar'i bersifat bid'ajh, akan tetapi dalam perkembangan zaman saat ini sulit untuk ditinggalkan , dan segala atau hal perbuatan yang bersifat bid'ah , namun apabila dilakukan justru akan mendatangkan kemaslahatan bagi kaum muslimin.

Bid'ah Dhalalah

Yaitu segala sesuatu hal atau perbuatan yang secara syar'i bersifat bid'ah, serta sekaligus bersifat sesat dan menyesatkan , dimana hal atau perbuatan tersebut apabila dilakukan akan menjerumuskan kaum muslimin dalam kemungkaran, kesesatan dan akan membawa kemudharatan serta malapetaka. Contohnya tentang fatwa sholat dalam bahasa setempat, menghalalkan daging babi, mencerca dan menghina kaum muslim yang berbeda paham dsb. Bid'ah seperti inilah yang harus diantisipasi dan dijauhi serta diberantas oleh kaum muslimin.

Maka berkaitan dengan bid'ah tersebut dalam hubungannya dengan thariqah atau ilmu tasawuf, mungkin saja didalam beberapa kelompok thariqah terdapat hal hal yang bersifat bid'ah , akan tetapi hal itu tergolong kepada bid'ah hasanah , yang menguntungkan dan membawa kemaslahatan apabila dilakukan. Karena proses pembelajaran ilmu tasawuf ( dengan melalui thariqah ) pada hakikatnya adalah proses pembersihan diri manusia dengan meninggalkan perbuatan maksiat serta penyucian diri dari sifat tercela , untuk kemudian menghiasinya dengan ahlak terpuji. Disamping itu , sesungguhnya bentuk ijtihad yang dilakukan para ulama tasawuf Islam , tidaklah berbeda dengan yang dilakukan oleh para ulama fiqih. Sehingga apabila ulama fiqih saja diperkenankan untuk berijtihad , maka para ulama tasawuf juga tentunya diperkenankan untuk melakukan ijtihad mengenai konsep ajarannya, sebatas ijtihad yang dilakukan oleh masing-masing ulama tersebut tetap berlandaskan dan mengacu kepada al Qur'an suci dan Sunah Rasulullah Saww.

Kesaksian para ulama Fiqih tentang Tasawuf

Sesungguhnya tasawuf adalah islam, dan Islam adalah tasawuf. Untuk mencapai kesempurnaan ibadah dan keyakinan dalam Islam , seseorang hendaknya mempelajari ilmu tasawuf melalui thariqah thariqah yang mu'tabar dari segi silsilah dan ajarannya. Para ulama besar kaum muslimin sama sekali tidak menentang tasawuf bahkan tercatat banyak dari mereka yang menggabungkan diri sebagai pengikut dan murid tasawuf , para ulama tersebut berkhidmat dibawah seorang bimbingan syaihk yang arif, bahkan walaupun ulama tersebut lebih luas wawasannya tentang pengetahuan Islam , namun mereka tetap menghormati syaihk yang mulia, hal ini dikarenakan keilmuan yang diperoleh dari jalur informal adalah pendidikan lahiriah dan untuk memperoleh ilmu batiniyah dalam membnetuk qalbun dalim dan kesempurnaan ahlak , seseorang harus menyerahkan dirinya untuk berkhidmat dibawah bimbingan seorang syaihk tasawuf yang sejati.

Empat orang mazhab Ahlussunah , semuanya mempunyai seorang syaihk thariqah . Melalui syaihk itulah mereka mempelajari Islam dari segi esoterisnya yang indah dan agung. Mereka semua menyadari bahwa ilmu syariat harus didukung oleh ilmu tasawuf sehingga akan tercapailah pengetahuan sejati mengenai hakikat ibadah yang sebenarnya.

Imam Abu Hanifah ( Nu'man bin Tsabit - ulama besar pendiri mazhab Hanafi ) adalah murid dari Imam Jafar al Shadiq as. berkaitan dengan hal ini , Jalaludin as Suyuthi didalam kitab Durr al mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah ( 85 H - 150 H ) berkata, " Jika tidak karena dua tahun , nu'man telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq , maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya mengetahui jalan yang benar ".

Imam Maliki ( malik bin Anas- ulama besar pendiri mazhab Maliki ) yang juga murid Imam Jafar as Shadiq as, mengungkapkan pernyataan nya mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut, " Barangsiapa mempelajari /mengamalkan ilmu tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik , dan barang siapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa mempelajari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih kebenaran." ( 'Ali al Adawi dalam kitab ulama fiqih , vol.2, hal 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan )

Imam Syafi'i ( Muhammad bin Idris , 150 - 205 H , Ulama besar pendiri mazhab Syafi'i ) berkata, " saya berkumpul bersama orang orang sufi dan menerima 3 ilmu : 1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara. 2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dn kelembutan hati. 3. Mereka membimbingku kedalam jalan Tasawuf " ( Riwayat dari kitab Kasyf al Khafa dan Muzid al Abas , Imam 'Ajluni, vol.1, hal 341 )

Imam Ahmad bin Hanbal ( 164 - 241 H : Ulama besar pendiri mazhab Hanbali ) berkata, " Anakku, kamu harus duduk bersama orang- orang sufi , karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah didalam hati mereka. Mereka adalah orang orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka." ( Ghiza al Albab, vol.1 ,hal .120 : Tanwir al Qulub , hal .405, Syaihk Amin al kurdi )

Syaihk Fakhruddin ar Razi ( 544 - 606 H : ulama besar dan ahli Hadist ) berkata, " Jalan para sufi adalah memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam fikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah pada seluruh tindakan dan prilaku ." ( I'tiqad al Furaq al Musliman , hal 72,73 )

Ibn Khaldun ( 733 - 808 H ; Ulama besar dan Filosof Islam ) berkata, " Jalan sufi adalah jalan salaf, yakni jalannya para ulama terdahulu diantara para sahabat Rasulullah Saww, tabi'in, dan tabi'it -tabi'in . Asasnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan serta kesenangan dunia " ( muqadimah ibn khaldun , hal 328 )

Imam Jalaludin as Suyuti ( Ulama besar ahli Tafsir Qur'an dan Hadist ) didalam kitab Ta'yad al haqiqat al 'Aliyyah , hal. 57 berkata , " Tasawuf yang dianut oleh ahlinya adalah ilmu yang paling baik dan terpuji . Ilmu ini menjelaskan bagaimana mengikuti sunnah nabi Saww dan meninggalkan bid'ah."

Bahkan Ibnu Taimiyyah ( 661 - 728 H ) , salah seorang ulama yang terkenal keras menentang tasawuf pada akhirnya beliau mengakui bahwa tasawuf adalah jalan kebenaran , sehingga beliaupun menjadi murid dari thariqah Qadiriyyah. Berikut ini perkataan Ibnu Taimiyyah dala kitab majmu al Fatawa Ibn Taimmiyah , terbitan Dar ar Rahmat , Kairo, Vol 11, hal 497 , dalam bab Tasawuf : " Kalian harus mengetahui bahwa para syaihk yang terbimbing harus diambil dan diikuti sebagai petunjuk dan teladan dalam agama, karena mereka mengikuti jejak para Nabi dan Rasul. Thariqah para syaihk itu untuk menyeru pada manusia kepada kehadiran dalam Hadirat Allah dan ketaatan kepada Nabi ." Kemudian dalam kitab yang sama hal 499, beliau berkata, " Para syaihk harus kita ikuti sebagai pembimbing . Mereka adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita berhaji, kita memerlukan petunjuk ( dalal ) untuk mencapai ka'bah , para syaihk ini adalah petunjuk ( dalal) menuju Allah dan Nabi kita. " Diantara syaihk sufi yang beliau sebutkan didalam kitabnya adalah, Syaihk ibrahim ibn Adham ra, guru kami Syaihk Ma'ruf al Kharkhi ra, Syaihk Hasan Al Basri ra, Sayiddah Rabi'ah al Adawiyyah ra, guru kami Syaihk Abul Qasim Junaid Ibn Muhammad al Baghdadi ra, Guru kami Syaihk Abdul Qadir al jailani, Syaihk Ahmad ar Rifa'i ra, dll.

Sepertiitulah pengakuan para ulama besar kaum muslimin tentang taawuf. Mereka mengkui kebenarannya dan mengambil berkah ilmu tasawuf dengan belajar serta berkhidmat kepada para syaihk thariqah pada masanya masing-masing. oleh karena itu tidak ada bantahan terhadap kebenaran ilmu ini , mereka yang menyebut tasawuf sebagai ajaran sesat atau bid'ah adalah orang orang yang tertutup hatinya terhadap kebenaran , mereka tidak mengikuti jejak jejak para ulama salaf yang menghormati dan mengikuti ajaran tasawuf Islam.

Kitab Miftah al Thariq , Pembuka jalan spiritual ahli suluk Thariqah Qadiriyyah Hasan - Husein . Oleh Jafar Hasan.

Kamis, 24 Juni 2010

Detik-Detik “SAKROTHUL MAUT” Baginda Rasulullah SAW ♥♥♥♥♥




Detik-Detik “SAKROTHUL MAUT” Baginda Rasulullah SAW ♥♥♥♥♥
Sad Story By : ~∂eanny♥divΞ & S♥h♥b♥t ►
Bumi Allah, 25 Juni 2010.


...Bismillaahir rohmanir rohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wa barokaatu


Saudara-saudariku tercinta kekasih Baginda Rasulullah SAW…

Setiap kali Jean membaca kisah tentang saat-saat terakhir kehidupan Baginda Rasulullah tercinta Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bersamaan dengan itu pula rasa haru biru dan tangis tak dapat ku-elakkan.

Yaa Allah yaa Mujiib… Sesungguhnya Engkau Mahasuci lagi Mahamengabulkan, semoga Engkau berkenan mempertemukan aku (kami) dengan Rasul-Mu yang agung dan paling Engkau cintai di Jannah-Mu kelak. Seungguh tak terkira rasa rindu di hati ini ingin berjumpa dengan-Mu yaa Allah, bersama kekasih-Mu tercinta Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. ^^,

Maka demi-Mu yaa Allah, mudahkanlah bagi kami agar sami’na wa atho’na kepada seluruh perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, serta berusaha sekuat tenaga melaksanakan suatu ketentuan sebagaimana firman-Mu, “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah RABB yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh, dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya." (QS. al-Kahfi {18}:110).

Subhanallah, kami sami’na wa atho’na yaa Allah, Allahu Akbar…

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.


Saudara-saudariku tercinta kekasih Baginda Rasulullah SAW…

Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah ta’ala melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya.

Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara kepada kalian, yakni al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti engkau mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama-samaku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang kondisinya semakin lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.

“Maafkanlah, Ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani Ayahnya yang ternyata sudah membuka mata, dan bertanya pada Fatimah.

“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah Ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah nak, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.

Fatimah menahan ledakkan tangisnya… ^^,

Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.

Detik-detik kian dekat, saatnya Izroil melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.

Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.

Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah…

♥♥♥♥♥ ^^, Sebentar saudara-saudariku, tak kuasa diri Jean mendapati sekaligus membayangkan, betapa mulianya hati kekasih Allah tercinta ini. MasyaAllah, di saat sakrotul maut-nya, Beliau masih tetap mengkhawatirkan nasib kita para umat-nya :’( Subhanallah, sungguh mulia pengabdianmu kepada RABB Semesta Alam yaa Rasulullah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa alii sayyidina Muhammad ^^, ♥♥♥♥♥

Wahai saudara-saudariku tercinta rahimakumullah…
Mari kita lanjutkan sedikit lagi kisah suci ini…

“YAA ALLAH, DAHSYAT SEKALI MAUT INI, TIMPAKAN SAJA SEMUA SIKSA MAUT INI KEPADAKU, JANGAN PADA UMATKU,” pinta Rasul pada Allah

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.

“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku; Peliharalah sholat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu.

Wahai, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Sungguh, betapa cintanya Rasulullah kepada kita. ^^,

. . . . . . . . . . . ♥♥♥♥♥♥♥♥♥ . . . .. . . . . . . . . .



Billaahit-taufiq wal-hidayah,
Wassalamu’alaykum wr.wb.
~∂eanny♥divΞ
Posting By : M♥A♥D Team™

NOTE :

Saudara-saudariku tersayang, hendaknya kirimkanlah kisah suci ini kepada sahabat-sahabat muslim lainnya. Semoga dengan begitu, akan timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, sebagaimana Allah dan Rasul mencintai kita semua. Allahumma aamiin…

Rabu, 14 April 2010

Kawan yang tidak membangkitkan semangat beribadah



A’udzubillahi minassyaithanirrajiim
Bissmillahirrahmanirrahiim
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad
" Janganlah kalian bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan semangat beribadah, serta ucapan yang tidak membawa kalian mendekati Allah Swt. Apabila kalian berbuat salah, ia mengatakan bahwa itu adalah kebaikan , sebab kalian bersahabat dengan orang yang perilakunya lebih jelek dari kalian sendiri"
Pembicaraanu dengan seorang sahabat dalam pergaulan dengan cara yang baik dan sopan santun, diajarkan dalam dasar-dasar agama islam. Demikian percakapan itu menjadi dasar dalam pergaulan hidup manusia yang dapat diambil manfaatnya. Pada dasarnya persahabatan itu mempengatuhi hidup manusia. Memilih pergaulan sebagai cara memperbagus persahabatan sama pentingnya seorang memilih makanan yang cocok dengan seleranya, juga makanan yang dapat memberi manfaat bagi kesehatannya.
Bergaul dengan orang saleh, tentu akan memperoleh kesalehannya. begitu pun sebaliknya. Berbicarapun demikian. Berbicara selalu menjadi ukuran bagaimana keadaan seseorang. Ucapan yang sesuai dengan tuntunan Nabi Saaw., adalah yang mampu menggerakan semangat beramal dan beribadah dan sebagai pemicu amalan yang diridai oleh Allah Swt. Sabda Rasulullah Saaw., " Bergaul hendaklah dengan sesama orang beriman , dan makanan yang disajikan dimakan oleh orang-orang yang taqwa". ( HR. Abi Daud dan Tirmidzi )
Ketahuilah , bahwasanya pokok sengketa manusia itu berasal dari pergaulan . Pergaulan yang tepat ialah memilih dan menyaring orang yang akan bersama kita, persahabatan yang tepat ialah mendapatkan orang yang tidak hanya bisa tertawa dikala kita senang, tetapi menagis bersama dikala susah.
Bersahabat memang penting, lebih penting lagi adalah kebaikannya ( maslahah ), dan menghindari sahabat yang membawa kerusakan ( Mafsadah ). sebaik baik orang yang bersahabat ialah mereka yang berjumpa karena Allah dan juga berpisah karena Allah jua. Jangan sampai sahabat kita yang akan menenggelamkan kita sendiri , karena harus mengikuti kemauan mereka , tanpa mengetahui tujuan yang jelas dan bermanfaat. Sufyan Ats- Tsauty berkata, " Apabila kalian bergaul dengan orang banyak tentunya harus mengikuti mereka. barang siapa yang mengikuti mereka, tentu harus mengambil hati mereka, barang siapa yang mengambil hati mereka , tentu akan binasa seperti mereka."
Bersahabatlah dengan orang yang akan menyelamatkanmu didunia dan di akhirat, melepaskanmu dari bencana yang disengaja atau tidak disengaja. Nabi Muhammad Saaw. bersabda, " Biasanya kalian suka mengikuti sepak terjang sahabat-sahabatmu , maka hendaklah kalian memilih yang akan menjadi sahabatmu." ( HR. Ahmad dan Tabarany )
Khalifah Ali mengingatkan, " Kawan yang paling jelek adalah orang yang suka mencari-cari kesalahanmu , dan mengajak kamu bermuka dua."

Ungkapan kebesaran Allah Swt melalui lisan sahabatmu, dan terus mengingatkan kebesaran Allah Swt kepadamu, itulah sahabatmu yang sesungguhnya.

Senin, 12 April 2010

ORANG YANG LUPA DAN ORANG YANG BERAKAL



A’udzubillahi minassyaithanirrajiim

Bissmillahirrahmanirrahiim

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad

"Orang lupa, apabila pada waktu pagi , ia memandang apa yang akan ia kerjakan. Sedangkan orang yang berakal, ia melihat ( memikirkan ) apa yang akan ditetapkan Allah bagi dirinya".

Pertama yang tersentak dalam hati dan fikiran seorang hamba pada pagi hari , sesuai dengan mizan Tauhid. Orang yang lalai , apabila pagi hari datang ia akan bingung mengatur dirinya, dan tidak tahu apa yang harus ia perbuat hari itu. Ia bertanya, " Apa yang akan saya kerjakan hari ini?" Adapun orang yang lalai , ia sibuk mengurus dirinya dengan keduniawiannya, ia melalaikan akan Tuhannya. Padahal ia sendiri tahu bahwasanya Allah jualah yang mengurus seluruh keperluan dunianya. Manusia itu sendiri tidak akan mengetahui tentang hari ini dan hari esok bagi dirinya.

sebaliknya , orang yang gunakan nuraninya tersinar dengan tauhid, ia tidak pernah lalai atas kekuasaan Allah, karena akalnya sehat dan imannya kokoh. Ia menerima semua kejadian sesuai dengan kehendak Allah SWT. Ia mampu mengendalikan perasaannya dengan akal dan cahaya tauhid yang bersinar dalam kalbunya, sehingga ia tidak berduka cita dan bersedih hati menghadapi peristiwa yang menimpa dirinya. Ia rela menerima pemberian Allah yang bagaimanapun keadaanya. Adalah Umar bin Abdul Aziz, ia lebih suka menjalankan tugas hidupnya apabila itu sudah menjadi ketentuan Allah ta'ala bagi dirinya. Penyerahan diri kepada Allah itu sangat penting bagi pemellihara iman dan kemurnian tauhid kepada Allah . Disaat apapun dan diwaktu kapanpun kemurnian iman hendklah dapat di pelihara. Hati manusia yang mudah mendapat rangsangan dan pengaruh dari luar , suka mengalami goncangan. Oleh karena itu kata ahli makrifat, hati itu diwaktu pagi atau petang hendaklah menyerah bulat-bulat kepada Allah. Agar Allah memandang manusia dengan pandangan rahmat dan kasih sayangNya. Kalian rida menerima pemberian Allah , banyak atau sedikit , dan Allah kelak akan rida kepada dirimu. Dengan cara ini kita tidak akan bingung dan bertanya-tanya tentang hidup kita, pekerjaan kita, makan dan minum kita , pakaian dan temoat tinggal kita. Karena semuanya telah kita terima dari Allah . Denga rida hati diterima dengan penuh syukur, dan menempatkan semua pemberian Allah itu sebagai anugrah yang berharga.

Manusia itu tidak menguasai dirinya sendiri, bukan pemilik dirinya sendiri , bukan pengatur dirinya sendiri , Allah jualah yang mengatur diri manusia itu , menguasai dan mengarahkannya bagi yang mau diarahkan.

Rasulullah Saaw. sendiri selalu memohon kepada Allah , agar melindungi dirinya dari marabahaya dan ketidak mampuan menguasai dirinya.

"Ya Allah, sesungguhnya aku berada diwaktu pagi , aku tidak menguasai diriku, kalau terjadi bahaya atau kebaikan , mati atau hidup. Demikian juga hidup sesudah mati . Dan aku tidak mampu mendapatkan kecuali menjaga apa yang Engkau jaga untukku. Ya Allah , bantulah aku ( agar dapat mengerjakan apa yang Engkau sukai ,dan Engkau ridai dalam perkataan dan perbuatanku ), dalam melakukan taat kepadaMu. Sesungguhnya Engkau adalah zat yang memiliki karunia yang besar."

Demikian juga seperti doa ahli makrifat Abi Hasan Asy-Syadzily yang berserah diri kepada ketentuan Allah . tentunya penyerahan yang penuh dengan keyakinan atas bantuan Allah , setelah berikhtiar dalam bentukj yang diizinkan oleh Allah Ta'ala.

"Ya Allah, sesungguhnya perkara itu ada dalam kekuasaanMu, semuanya tertutup dari pengetahuanku. Sesungguhnya aku tidak mengetahui apa yang harus kupilih untuk diriku, maka pilihkanlah untukku, apa yang paling baik untukku, bimbinglah diriku untuk mendapatkan situasi yang baik, serta terpuji kesudahannya dalam pandangan agama, pandangan dunia dan pandangan akhirat. Sesungguhnya Engkau ( Allah ) yang Maha berkuasa atas segala sesuatu."

Hamba yang saleh hendaklah mampu menempatkan dirinya . Oleh karena hamba Allah , dalam segala gerakannya didunia ini , tidak dapat dipisahkan dari kehendak Allah Ta'ala. Allah Swt , adalah Perencana bagi alam semesta dan seluruh isinya.

"Lepaskanlah keangkuhanmu , hadapi ketiadaan dan kerendahanmu bersama Allah Ta'ala, dan syukurilah kelebihan serta kekuranganmu , karena sesungguhnya kedua hal itu sangatlah dapat menolongmu apabila kamu tidak termasuk orang yang lupa".-syarelhasan-

Jumat, 09 April 2010

Dua Perbedaan Wujud Allah


A’udzubillahi minassyaithanirrajiim
Bissmillahirrahmanirrahiim
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad
-Syehk Ahmad Atailah - Mutu Manikam dari Kitab Al Hikam-
"Dua perbedaan sebagai dalil yang menunjukan adanya Allah Ta'ala. Pertama orang yang berpegang pada dalil dengan melihat dari wujudnya Allah Swt. Itu menunjukan adanya alam. Kedua , Adanya alam ( ciptaan Allah ) menunjukkan wujudnya Allah Ta'ala. Pendapat pertama lebih melihat Allah itu memang ada , maka terjadilah alam semesta. Yang ada itu adalah Allah, karena Allah Ta'ala jua yang menciptakan alam. Pendapat ni menegaskan bahwa wujud yang sebenarnya adalah milik Allah. Itulah wujud asalnya. Adapun dalil yang yang menyebutkan adanya alam ini menunjukan adanya Allah Ta'ala ( adanya mahluk menunjukan adanya Al Khalik ) , adalah karena belum sampainya sihamba kepada Allah. Untuk memperkuat pendapat pertama, lalu timbul pertanyaan, kapan Allah Ta'ala itu gaib ( tidak ada ), lalu mencari dalil untuk mengenalnya ? Sejak kapan Allah itu jauh, sehingga memerlukan jalan untuk menemuiNya? "
Anak Adam (manusia) yang dibesarkan melalui rahim seorang ibu , lalu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sempurna, bermula adalah tidak mengetahui apa-apa ( jahil ). Kemudian Allah Swt . melengkapi mereka dengan kekhususan tubuh dengan anggota badan, lalu mereka aktif menggunakan peralatan jasmani mereka, sehingga mereka mengetahui kebutuhan yang diperlukan , lalu menjadi insan yang berpengetahuan . Dari ketidak tahuan menjadi tahu . Seperti di jelaskan dalam Al'Quran , surat An Nahl ayat 78, " Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu , tidak mengetahui suatu apapun ". Kelengkapan manusia diberikan oleh Allah , maksudnya agar manusia mengenal Allah secara sempurna. Pengetahuan yang meliputi lahir dan batin, pikiran dan ikhtiar. Al Quran mengisyaratkan hal ini dalam kalimat , " Allah menciptakan manusia dengan memberikan pendengaran, penglihatan, hati sanubari ". Pemberian Allah kepada manusia dengan kelengkapan indera mereka , agar mampu memikirkan kekuasaan Allah , lalu mendekatkan diri kepada maha Pencipta. Mentaati peraturan dan hukum yang diciptakanNya , agar dengan demikian mereka termasuk orang yang bersyukur.
Ada dua golongan manusia menurut Syehk Ahmad Ataillah. Pertama, yang mengenal Allah langsung mengetahui wujudnya Allah tanpa melihat ciptaan Allah . Mengenal Allah tanpa perantaraan selain Allah sendiri. Sebab tanpa benda - benda ciptaan Allah , sihamba akan langsung makrifat kepada Allah . Mata hati sihamba telah mampu menyingkap tabir penghalang yang menutupi antara sihamba dengan Allah , atas izin Allah jua adanya. Penglihatan dengan mata hati iman ini mengangkat sihamba ke makrifat yang terpuji. Golongan ini tidak memerlukan wujud ciptaan Allah ini dalam mengenalNya. Akan tetapi tidak berarti alam ciptaan Allah yang sangat dahsyat ini tidak dapat dipergunakan untuk mengenal Allah. Justru dengan mengenal ciptaanNya manusia akan lebih akrab denganNya. Kedua , hamba yang mempergunakan alam dan seluruh wujud ciptaanNya sebagai jalan untuk mengenal Allah menurut ukuran logika . Golongan ini disebut orang yang sedang menuju Allah Swt.
Perjalanan menuju Allah , ialah dengan mengenal Allah selain mengikuti petunjuk diatas, yang paling sesuai dengan sunah Nabi Saaw., yaitu dengan mempelajari ilmu tauhid ( Aqaid ) dengan mengenal sifat-sifat Allah yang 99, bersama pembagiannya. Pemantapan iman diperlukan bagi setiap orang, baik orang awam maupun orang alim melalui ilmu yang dikenal dalam islam. Mengenal ilmu yang berkaitan dengan Allah , berarti sihamba mendekati Allah dengan ilmuNya sendiri yang diwahyukan kepada junjungan Nabi Saaw. Sebab tan pa ilmu Aqaid manusia mengenal tanpa ilmu.
Hamba yang telah mengenal Allah tanpa alam semesta dan lain-lain,adalah orang yang mendapatkan sinar cahaya Allah . Sedangkan hamba yang menuju Allah untuk mengenalnya adalah orang yang sedang mencari sinarNya.
Orang yang telah sampai kepada Allah ( wasil ) , terpancar dari padanya cahaya yang dianugrahkan Allah kepadanya. Ia melihat Allah dengan mata hatinya ( basirah ) . Hamba yang telah mencapai tingkat ini telah sampai kepada haqul yaqin . Cahaya yang memancar itu disebut " anwarul muwajjahah".
Cahaya yang keluar dari hati menusia memantulkan kekuatan yang tidak dimiliki oleh benda-benda langit. Cahaya itu dapat melembutkan kerasnya hati dan fikiran manusia, sehingga dapat membentuk peradaban yang berguna bagi alam semesta. Cahaya hati itu adalah cahaya iman yang datang dari cahaya Illahi dengan bermacam macam rahasia yang bersembunyi didalamnya. Tempat terbitnya bermacam-macam Nur Illahi didalam hati manusia dan rahasia-rahasianya.

Rabu, 07 April 2010

BUKAN HANYA BERDOA TETAPI ADAB BERDOA




A’udzubillahi minassyaithanirrajiim

Bissmillahirrahmanirrahiim

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad


" Tujuan Utama bukan hanya sekedar berdoa dengan sebagus-bagusnya adab "

Seorang hamba, dalam segala hak memang wajib berharap kepada Allah SWT dan bermohon untuk kebutuhannya kepada Maha Pencipta. Semua ini adalah bahagian dari pada hidup yang selalu dimiliki oleh sihamba sepanjang hayatnya. Sebab Allah SWT adalah satu-satunya tempat bergantung ( Allahus Samad).

Akan tetapi berdoa atau mengharapkan pertolongan Allah SWT sebagai satu-satunya tempat bagi sihamba memohon pertolongan ( bukan hanya sekadar berdoa ) . Sebagai harapan kepada Allah SWT , memiliki tatakrama ( adab berdoa ) . Nabi Saaw. mengajar adab yang paling bagus dan indah yang wajib dimiliki dan diucapkan oleh sihamba dihadapan Allah Jalla Jalaluh.

Adab yang bagus dan indah itu , adalah kelembutan sihamba ketika menyampaikan dan mengucapkan permintaannya. Karena Allah Ta'ala itu Maha Halus, Maha Lembut ( Allahu Latifun Khabir ) . Demikian juga sopan santun yang bergerak dalam hati sihamba ( konsentrasi jiwa ) ketika berdoa . Adalah sangat tidak beradab, apabila sihamba memohon kepada Al Khaliq , namun hati sihamba kosong, dan tidak hadir dalam pertemuannya dengan Allah SWT. Allah Swt tidak menyukai kepada sihamba yang berdoa dengan hati yang kosong.

Kekhusuan dan kebersihan hati dari Riya ', ujub dan lain - lain sifat yang kotor diperlukan bagi sihamba ketika berdoa, karena hal ini termasuk dalam sopan santun adab berdoa.

Selain itu, seorang hamba yang beradab baik dalam berdoa , tidak memaksa Allah Ta'ala dalam doanya. Ia tidak meminta segera doanya diterima . Ia tidak boleh menentukan pilihan dari sekian banyaknya permohonan yang diharapkan dari Allah Swt, akan tetapi ia menyerahkan seluruh permohonan itu kepada Allah belaka. Karena Allah juga yang memberi dan mengatur pemberianNya untuk si hamba.

Seorang hamba menerima pemberian dari Allah dari apa yang pernah ia mohonkan kepada Allah , telah disesuaikan oleh Allah dengan kemampuan sihamba. Allah Ta'ala Maha Mengetahui apakah seorang hamba kuat memikul pemberian Nya. Sebab, suatu pemberian yang dipikulkan kepada sihamba, akan menjadi ujian bagi sihamba, adakah pemberian itu mendatangkan kebaikan bagi dirinya atau dipergunakan untuk kerusakan . Allah maha mngetahui keadaan sebenarnya dari setiap hamba-hambaNya.

Agar suatu permohonan diterima oleh Allah , serta terpeliharanya pemberian Allah yang telah diterima sihamba, maka adab ketika memohon syarat utam bagi terkabulnya doa . Doa yang sudah terkabul dan pemberian yang sudah diterima itu akan terpelihara dan manfaat, apabila hamba mampu menjaga kondisi imannya dari waktu kewaktu.


Pernahkah anda memikirkan tentang pemberian Allah Swt kepada anda, kemudian menanyakan pada diri anda, dari doa manakah atau kapankah pemberian ini ? sehingga anda merasa yakin bahwa pemberian ini adalah manifestasi dari doa anda dan menjadikan anda yakin "sudah terjadi komunikasi "dengan Allah SWT. - syarelhasan-

Minggu, 14 Maret 2010

Kumail bin Ziyad an Nakhai


A’udzubillahi minassyaithanirrajiim
Bissmillahirrahmanirrahiim
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad

Dimasa khusunya ketika Amirul mu'minin Imam Ali bin Abi Thaleb AS. masih hidup ; yang kemudian dilanjutkan di jaman para Ma'shumin Allaihimussalaam, kaum muslimin dimasa itu pada setiap malam jum'at senantiasa memanfaatkan waktunya untuk berdoa. Mereka duduk berkumpul didalam saf -saf sambil memohon pada Allah SWT yang maha pemurah mengampuni dosa- dosa mereka dan mengharap keridhaanNya.. . Kata -kata yang indah berkumandang dan bergema dari mesjid sehingga mencapai diketinggian langit yang menjulang : " Ya Allah , hamba memohon kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu. Dan dengan kekuatanMu yang dengannya Engkau taklukan segala sesuatu....". Siapakah yang memohon itu ?
Ia adalah Kumail bin ziyad an Nakhai , seorang sahabat setia Al Murthado ( Imam Ali bin Abi Thaleb AS ). Kumail bin Ziyad adalah seorang yang mulia . Ia berasal dari yaman, dan keluarganya menetap di kuffah selama masa kekhalifahan Imam Ali AS. Masa indah saat saat kepemimpinan Imam ALi AS telah berlalu bersamaan denga ke syahadahan beliau ; selanjutnya umat islam telah dicabik cabik oleh para pendurhaka La'natullah alaih ; mereka para dzolimin, dan dengan cara curang dan hina telah mengulang kembali merebut amanah kepemimpinan . Mereka telah merobah amanah tersebut menjadi kekuasaan semata demi mewujudkan keserakahan ambisi mereka dalam meraih berbagai kenikmatan dunia. Mereka menggelari dirinya sendiri sebagai khalifah - Nabi atau pemimpin orang-orang beriman . Diantaranya adalah Al Hajjaj. Dimasa kepemimpinan orang yang dzolim inilah Kumail dimasa tuanya memimpin pasukan perlawanan didalam revolusi penggulingan kedzoliman Al Hajjaj . Beliau Memimpin pasukan dari kelompok penghafal Al'Quran di masa Imam Ali AS., pernah suatu ketika Imam Ali AS . mengajaknya keluar kota kuffah pada malam hari , sesampainya di tempat, imam Ali AS. berkata kepadanya :" Wahai Kumail, hati ini adalah tempat berkumpulnya ilmu. Yang terbaik dari manusia adalah mereka yang memelihara ilmu . Oleh karena itu peliharalah apa apa yang aku ajarkan kepadamu. Sesungguhnya ada tiga kelompok manusia : KELOMPOK UTAMA adalah mereka yang mengenal Allah SWT. : KELOMPOK KEDUA adalah mereka yang mempelajari ilmu hanya untuk keselamatan dirinya : KELOMPOK KETIGA adalah orang orang awwam, yang hanya meniru apa kata orang dan selalu mengikuti kemana angin berhembus, mereka tidak pernah mencari pencerahan ilmu dan juga tidak mencari kewenangan sesuatu apapun - wilayah - dari seseorang.
Dikesempatan yang lain ketika Imam ALi AS sedang duduk berkumpul berdiskusi bersama para sahabatsetia lainnya. Salah seorang diantaranya bertanya tentang tafsir sebuah ayat : " Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah..." ( Q.S. ad Dukhan : 4 ). Imam pun menjawabnya : " Ayat itu mengenai nisfu- Sya'ban . Demi Allah , orang-orang harus memohon kepada Allah SWT pada malam itu . Mereka harus membaca Do'a Al Khidir. Maka Allah niscaya akan mengabulkannya".
Pertemuan dimalam itupun usai sudah. Imam Ali AS pulang kerumah beliau. Malam semakin larut , suasana menjadi sunyi dan gelap . Orang- orang telah pergi ke peraduan dan tidur. Pada saat itu , Kumail malah bangkit dari tempat tidur , dan bergegas pergi kerumah Imam Ali AS. Tampaknya kumail memendam sesuatu yang enting dalam hatinya. Begitu sampai dirumah Imam Ali AS, segera belaiu mengetuk pintunya pelan -pelan sambil setengah berbisik memanggil Imam Ali AS. Tak berapa Lama pintu pun dibuka , tampak Imam Ali AS berdiri dengan wajah bercahaya sambil menatapnya, sesaat kemudian beliaupun bertanya : " Apa yang membawamu kemari ? ". Kumail menundukan kepalanya sambil berkata dengan sopan : "Yaa Amirul Mu'minin , bagaimanakah doa al Khidir itu ?". Sekilas Imam Ali AS tersenyum , lalu beliau berkata dengan ramah :" Yaa Kumail , masuk dan duduklah. Aku akan membacakan doa itu untukmu . Bacalah setiap malam jum'at dan amalkan olehmu". Lalu Imam Ali AS melantunkan doa tersebut. Kumail menyimak dan mencatat. Selanjutnya doa itu tersebar hingga sekarang, dan berjuta-juta kaum musliminmelantunkan disetiap muka bumi ini . Mereka menyebutnya dengan " Doa Kumail ".
Maka pada setiap malam jumat dikala kita senggang , bacalah " Doa Kumail " , imanpun akan bercahaya didalam hati kita dan akan menyinari jalan hidup kita sebagai mana telah menyinari jalan hidup Kumail . Kembali kepada riwayat perjuangan Kumail bin Ziyad dkk, terhadap penguasa dzolim , Al Hajjaj, akhirnya kedua pasukan besar itu bertemu didaerah Dir al Jumajum . Pertempuran sengit terjadi diantara kedua kubu, dan pasukan Al Hajjaj dapat mendesak dan membubarkan pasukan Abdurrahman bin Al AShath / induk pasukan Kumail bin Ziyad. Seluruh pasukan Abdurrahman kocar-kacir, dan dihari hari selanjutnya mereka menjadi buronan Al Hajjaj termasuk para pimpinannya diantaranya Kumail bin Ziyad. Dengan cara yang licik , yaitu dengan menangkapi , memenjarakan menganiaya dan merampas harta benda para pengikut Kumail bin Ziyad . Akhirnya Kumail terpaksa menyerahkan diri kepada musuh islam untuk dibawa kehadapan Al Hajjaj . Disepanjang perjalanan menuju Al Hajjaj , Kumail mengenang kembali saat-saat indah bersama guru dan pemimpinnya Imam Ali AS . Ia teringat hari hari yang indah ketika menjadi seorang prajurit dalam pasukan Imam Ali AS. ia teringat pertempurannya melawan orang berkhianat. dzolim , fasiq. Dan ia mengenang kembali disaat diperintahkan Imam Ali AS untuk memimpin sejumlah pasukan yang terdiri dari 400 orang untuk menghadapi serbuan ribuan pasukan Mu'awiyah dan ternyata berhasil menang.
Kumail bin Ziyad an Nakhai adalah seorang yang beriman kepada Allah SWT dan hari Akhir. Ia seorang yang sangat santun dan mencintai semua orang. Hingga tibalah hari berhadapan dengan Al Hajjaj, wajah Kumail gemilang bercahaya, walaupun janggut , alis dan bulu matanya telah memutih; namun hatinya tetap kokoh dan sangat teguh. Kumail pun memasuki istana Al Hajjaj . Ia melihat Al Hajjaj sedang duduk dikelilingi para pengawalnya, dan tampak pula seorang algojo sesdang menghunus pedangnya.
Kumail tahu bahwa Al Hajjaj akan membunuhnya , karena Imam Ali AS. pernah berkata perihal dirinya didalam peristiwa ini . Tanpa menghiraukan Al Hajjaj, Kumail berkata : "Pemimpinku Imam Ali AS., telah mengatakan kepadaku bahwa kau akan membunuhku . Wahai musuh Allah , lakukan apa yang kau inginkan , dan ketahuilah hari pembalasan akan datang setelah pembunuhan ini !. Al Hajjaj berkata ." Ingkari Ali kalau kau ingin selamat !. " Tunjukan agama yang lebih baik dari agama Imam Ali AS. " jawab Kumail. Akhirnya Al Hajjaj memerintahkan algojonya untuk segera memenggal kepala Kumail bin Ziyad an Nakhai .
Sampai hari dan saat ini , orang -orang berduyun duyun berziarah kemakam Kumail bin Ziyad yang berada diatas bukit Wadi as Salaam dikota suci Najaf. Dan bau harum semerbak senantiasa menyebar dan tercium dari tempat peristirahatan terakhir Kumail bin Ziyad an Nakhai.


Salam sejahtera selalu dariku bagimu, wahai saudara Kumail.


" Kumail, persahabatanmu memaksa kami memenuhi keinginanmu ....! "
(Imam Aly bin Abi Thaleb AS. )