A’udzubillahi minassyaithanirrajiim
Bissmillahirrahmanirrahiim
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Alihi Muhammad
-Syehk Ahmad Atailah - Mutu Manikam dari Kitab Al Hikam-
"Dua perbedaan sebagai dalil yang menunjukan adanya Allah Ta'ala. Pertama orang yang berpegang pada dalil dengan melihat dari wujudnya Allah Swt. Itu menunjukan adanya alam. Kedua , Adanya alam ( ciptaan Allah ) menunjukkan wujudnya Allah Ta'ala. Pendapat pertama lebih melihat Allah itu memang ada , maka terjadilah alam semesta. Yang ada itu adalah Allah, karena Allah Ta'ala jua yang menciptakan alam. Pendapat ni menegaskan bahwa wujud yang sebenarnya adalah milik Allah. Itulah wujud asalnya. Adapun dalil yang yang menyebutkan adanya alam ini menunjukan adanya Allah Ta'ala ( adanya mahluk menunjukan adanya Al Khalik ) , adalah karena belum sampainya sihamba kepada Allah. Untuk memperkuat pendapat pertama, lalu timbul pertanyaan, kapan Allah Ta'ala itu gaib ( tidak ada ), lalu mencari dalil untuk mengenalnya ? Sejak kapan Allah itu jauh, sehingga memerlukan jalan untuk menemuiNya? "
Anak Adam (manusia) yang dibesarkan melalui rahim seorang ibu , lalu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sempurna, bermula adalah tidak mengetahui apa-apa ( jahil ). Kemudian Allah Swt . melengkapi mereka dengan kekhususan tubuh dengan anggota badan, lalu mereka aktif menggunakan peralatan jasmani mereka, sehingga mereka mengetahui kebutuhan yang diperlukan , lalu menjadi insan yang berpengetahuan . Dari ketidak tahuan menjadi tahu . Seperti di jelaskan dalam Al'Quran , surat An Nahl ayat 78, " Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu , tidak mengetahui suatu apapun ". Kelengkapan manusia diberikan oleh Allah , maksudnya agar manusia mengenal Allah secara sempurna. Pengetahuan yang meliputi lahir dan batin, pikiran dan ikhtiar. Al Quran mengisyaratkan hal ini dalam kalimat , " Allah menciptakan manusia dengan memberikan pendengaran, penglihatan, hati sanubari ". Pemberian Allah kepada manusia dengan kelengkapan indera mereka , agar mampu memikirkan kekuasaan Allah , lalu mendekatkan diri kepada maha Pencipta. Mentaati peraturan dan hukum yang diciptakanNya , agar dengan demikian mereka termasuk orang yang bersyukur.
Ada dua golongan manusia menurut Syehk Ahmad Ataillah. Pertama, yang mengenal Allah langsung mengetahui wujudnya Allah tanpa melihat ciptaan Allah . Mengenal Allah tanpa perantaraan selain Allah sendiri. Sebab tanpa benda - benda ciptaan Allah , sihamba akan langsung makrifat kepada Allah . Mata hati sihamba telah mampu menyingkap tabir penghalang yang menutupi antara sihamba dengan Allah , atas izin Allah jua adanya. Penglihatan dengan mata hati iman ini mengangkat sihamba ke makrifat yang terpuji. Golongan ini tidak memerlukan wujud ciptaan Allah ini dalam mengenalNya. Akan tetapi tidak berarti alam ciptaan Allah yang sangat dahsyat ini tidak dapat dipergunakan untuk mengenal Allah. Justru dengan mengenal ciptaanNya manusia akan lebih akrab denganNya. Kedua , hamba yang mempergunakan alam dan seluruh wujud ciptaanNya sebagai jalan untuk mengenal Allah menurut ukuran logika . Golongan ini disebut orang yang sedang menuju Allah Swt.
Perjalanan menuju Allah , ialah dengan mengenal Allah selain mengikuti petunjuk diatas, yang paling sesuai dengan sunah Nabi Saaw., yaitu dengan mempelajari ilmu tauhid ( Aqaid ) dengan mengenal sifat-sifat Allah yang 99, bersama pembagiannya. Pemantapan iman diperlukan bagi setiap orang, baik orang awam maupun orang alim melalui ilmu yang dikenal dalam islam. Mengenal ilmu yang berkaitan dengan Allah , berarti sihamba mendekati Allah dengan ilmuNya sendiri yang diwahyukan kepada junjungan Nabi Saaw. Sebab tan pa ilmu Aqaid manusia mengenal tanpa ilmu.
Hamba yang telah mengenal Allah tanpa alam semesta dan lain-lain,adalah orang yang mendapatkan sinar cahaya Allah . Sedangkan hamba yang menuju Allah untuk mengenalnya adalah orang yang sedang mencari sinarNya.
Orang yang telah sampai kepada Allah ( wasil ) , terpancar dari padanya cahaya yang dianugrahkan Allah kepadanya. Ia melihat Allah dengan mata hatinya ( basirah ) . Hamba yang telah mencapai tingkat ini telah sampai kepada haqul yaqin . Cahaya yang memancar itu disebut " anwarul muwajjahah".
Cahaya yang keluar dari hati menusia memantulkan kekuatan yang tidak dimiliki oleh benda-benda langit. Cahaya itu dapat melembutkan kerasnya hati dan fikiran manusia, sehingga dapat membentuk peradaban yang berguna bagi alam semesta. Cahaya hati itu adalah cahaya iman yang datang dari cahaya Illahi dengan bermacam macam rahasia yang bersembunyi didalamnya. Tempat terbitnya bermacam-macam Nur Illahi didalam hati manusia dan rahasia-rahasianya.
Mutu Manikam dari Kitab Al Hikam - Syaihk Ahmad Atailah
Mutu Manikam dari Kitab Al Hikam - Syaihk Ahmad Atailah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar